Nilai Beli Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 14.182 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.332 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 8.273 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.000 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 11.200 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 117.273 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.426 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.091 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 27.818 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 29.727 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 28.091 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Nilai Jual Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 13.009 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.412 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 9.106 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.749 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 10.718 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 116.518 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.653 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.602 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 30.050 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 28.349 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 26.972 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg ) 

Kalender Agenda

<<  September 2017  >>
 Mon  Tue  Wed  Thu  Fri  Sat  Sun 
      1  2  3
  4  5  6  7  8  910
11121314151617
18192021222324
252627282930 

Agenda Kegiatan

Tabel Ekspor-Impor

Data Nasional
Data Jawa Timur
Eror
  • JHTMLBehavior::caption not supported.
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTMLIcon::email not supported.
  • JHTMLIcon::print_popup not supported.
  • JHTMLIcon::pdf not supported.
  • JHTMLBehavior::mootools not supported.

Fantastis! Ekspor Jatim ke Swiss Meroket 36.000%, Ini yang Dijual

There are no translations available.

http://images.solopos.com/2013/12/pameran-batu-mulia-gigih-m-hanafi--370x246.jpg

Provinsi Jawa Timur makin tergantung pada ekspor produk kreatif ke pasar-pasar nontradisional, seiring dengan makin banyaknya jaringan dan simpul (hub) perdagangan Indonesia di Asia dan Eropa. Ke Swiss dan Taiwan saja, diluar dugaan melejit ribuan persen!

Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, memang menyoroti tren baru ekspor, yang di luar dugaan semakin ditopang oleh penjualan produk ekonomi kreatif. Dari total ekspor ke Swiss senilai US$0,20 miliar pada Januari, 99% di antaranya (US$0,19) merupakan permata.

Pada Januari 2014, total ekspor Jatim ke Swiss hanya US$544 saja, alias bahkan tidak sampai US$1.000. Namun, tepat setahun kemudian, nilainya meroket menjadi US$200 juta, naik 36.000%.

Ekspor ke Taiwan juga didominasi oleh produk perhiasan seharga US$0,20 miliar dari total ekspor ke kawasan tersebut senilai US$0,22 miliar. Taiwan dan Swiss masing-masing menduduki peringkat kedua dan ketiga setelah Jepang sebagai tujuan utama ekspor Jatim.

Sementara itu, AS yang biasanya menduduki posisi kedua sebagai pasar ekspor Jatim, terjun ke posisi keempat. Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jatim, Satriyo Wibowo, menjelaskan ekspor udang dan ikan ke AS anjlok drastis menjadi hanya US$34 juta.

“Fenomena ini sesuatu yang sangat baru. Selama ini ekspor Jatim ke Taiwan memang cukup tinggi, selalu masuk 10 besar. Tapi, ke Swiss bisa masuk 3 besar itu adalah sesuatu yang baru pertama kali terjadi. Mungkin Jatim punya pangsa pasar baru,” katanya kepada Bisnis/JIBI.

Tendensi tersebut terdeteksi dari data negara tujuan ekspor nonmigas Jatim awal tahun ini, yang didominasi oleh mitra dagang nonpopuler seperti Swiss dan Taiwan. Kedua pasar itu masuk ke dalam jajaran tiga besar tujuan ekspor Jatim untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Produk yang paling banyak dijual ke pasar nontradisional adalah perhiasan dan permata. Hal itu kontras dengan tren kinerja ekspor Jatim selama ini yang didominasi barang manufaktur dan komoditas alam ke pasar tradisional seperti China, Amerika Serikat, dan Jepang.

Ketua Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Isdarmawan menjelaskan tren baru ekspor Jatim itu dipengaruhi oleh semakin banyaknya hub bentukan pemerintah di luar negeri. Indonesia pun dijadikan referensi baru bagi impor produk kreatif negara lain.

“Ekspor permata dan perhiasan Jawa Timur tahun ini meningkat sangat tajam, karena dia tergolong produk ekonomi kreatif dengan keunggulan mode dan desain yang tidak kalah dari negara Eropa dan lainnya,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (24/2).

Terkait pecahnya rekor Swiss dan Taiwan sebagai negara tujuan ekspor utama Jatim, dia mengungkapkan Swiss telah resmi menjadi pintu masuk produk Jatim ke negara Uni Eropa lainnya. Sementara itu, Taiwan juga telah memiliki hubungan hub culture dengan RI.

Dominasi pasar nontradisional sebagai tujuan ekspor memiliki kecenderungan tidak dapat berkelanjutan (sustainable) karena biasanya ditopang oleh produk nonunggulan dan pola pembeliannya cenderung bersifat musiman.

Namun, para eksportir mengaku optimistis moncernya kinerja ekspor produk kreatif ke mitra dagang baru akan lestari. “Kami yakin bisa sustain, dengan catatan kita harus terus ikuti tren mode pasar dan agresif promosi. Ini perlu dukungan total dari pemerintah.”

Nyaris Surplus

Awal tahun ini, Jatim sebenarnya nyaris membuahkan surplus berkat topangan ekspor senilai total US$1,79 miliar, menguat 15,34% dari bulan sebelumnya. Impor, di sisi lain, melemah 8,42% menjadi US$1,80 miliar pada periode yang sama.

Menanggapi capaian tersebut, Satriyo menjelaskan provinsi beribukota Surabaya itu memang sulit menorehkan surplus meski ekspornya terus menguat. Pasalnya, Jatim adalah gerbang impor tumpuan Indonesia Timur.

“Masalahnya, impor itu memang bukan hanya untuk Jatim. Sebenarnya impor Jatim itu besar, bukan murni untuk konsumsi di sini. Barang yang diimpor di Jatim, masuknya lewat Tanjung Perak, untuk Indonesia Timur dan Jawa Tengah,” tutur Satriyo Wibowo.

Dia menyebut provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur dan Barat, Jateng, dan DI Yogyakarta kerap mengandalkan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai akses masuk barang impor. Hal itu yang menyebabkan impor Jatim selalu membengkak, meski ekspornya makin menguat.

Bagaimanapun, dia menekankan defisit neraca perdagangan Jatim sudah semakin menipis. Impor pada Januari—baik migas maupun nonmigas—mampu direm berkat reli penurunan harga minyak dunia pada bulan tersebut.

“Impor minyak Jatim cukup tinggi dan penurunan harga minyak dunia pada Januari kemarin cukup tajam, sehingga menguntungkan Jatim. Jadi, walaupun volume [impornya] tidak berubah, tapi secara nilai impor Jatim turun cukup dalam,” sambung Satriyo.

www.solopos.com