Nilai Beli Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 14.182 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.332 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 8.273 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.000 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 11.200 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 117.273 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.426 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.091 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 27.818 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 29.727 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 28.091 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Nilai Jual Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 13.009 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.412 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 9.106 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.749 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 10.718 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 116.518 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.653 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.602 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 30.050 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 28.349 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 26.972 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg ) 

Kalender Agenda

<<  September 2017  >>
 Mon  Tue  Wed  Thu  Fri  Sat  Sun 
      1  2  3
  4  5  6  7  8  910
11121314151617
18192021222324
252627282930 

Agenda Kegiatan

Tabel Ekspor-Impor

Data Nasional
Data Jawa Timur
Eror
  • JHTMLBehavior::caption not supported.
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTMLIcon::email not supported.
  • JHTMLIcon::print_popup not supported.
  • JHTMLIcon::pdf not supported.
  • JHTMLBehavior::mootools not supported.

Kontribusi Teluk Lamong Mewujudkan Poros Maritim Indonesia

There are no translations available.

http://antarajatim.com/UserFiles/imageberita/74ad5c4ef00ae9dd7ae928d0861b3327.jpg

Biaya logistik di Indonesia mahal, pernyataan itu tidak bisa dipungkiri oleh masyarakat kepelabuhanan di Tanah Air, di mana hal tersebut didukung "Logistic Perfomance Index" (LPI) Indonesia yang tercecer di peringkat ke-53 dunia.

Peringkat itu dianggap sejumlah kalangan tidak cukup baik akibat kurang efisiennya manajemen logistik nasional. Dengan demikian, biaya pengiriman barang menjadi lebih tinggi tatkala dibandingkan dengan negara pesaing di Asia Tenggara. Sementara itu, sampai sekarang kinerja LPI Singapura mampu di peringkat kelima, Malaysia di peringkat ke-25, dan juga Thailand di peringkat ke-35.

Menanggapi kondisi itu, Direktur Operasi dan Teknik Terminal Teluk Lamong (TTL), Agung Kresno Sarwono menyatakan bahwa permasalahan logistik nasional dapat dibagi dalam beberapa faktor. Seperti komoditas, Sumber Daya Manusia/SDM, regulasi, kelembagaan, infrastruktur, pelaku dan penyedia jasa logistik, serta teknologi informasi.

Sebagai contoh, infrastruktur memegang peranan sangat penting dalam kelancaran arus bongkar muat. Salah satunya keberadaan "mother vessel" (kapal pengangkut petikemas berukuran besar), di mana sampai sekarang hanya sandar untuk transit sampai Pelabuhan Singapura.

Berikutnya, hanya kapal-kapal "feeder" yang bisa melanjutkan perjalanan guna mengirim barang sampai ke Pelabuhan Tanjung Priok atau Pelabuhan Tanjung Perak. Padahal dividen yang didapat Singapura dari barang yang "numpang lewat" (transit) saja tersebut, memberikan kontribusi terbesar bagi negara pulau tersebut.

"Dari kondisi itu dapat menjadi bukti betapa potensialnya nilai ekonomi dari optimalisasi bisnis terminal," ucap Agung, saat ditemui pada Forum Diskusi dan Silaturahmi Antarpraktisi Humas Instansi Pemerintah, BUMN, dan BUMD, di Terminal Teluk Lamong Surabaya.

Pada pertemuan yang juga dihadiri Badan Koordinasi Humas (Bakohumas) Provinsi Jawa Timur di terminal petikemas milik PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III, diyakini mampu menjadi penyesuaian pada kinerja pemerintah yang gencar mengembangkan potensi maritim negeri.

Direktur yang telah malang-melintang di bidang maritim termasuk bekerja di Korea Selatan itu mengatakan, kegiatan yang diadakan di terminal berkonsep hijau tersebut, mengambil tema "Peran Terminal Teluk Lamong sebagai Generator dalam Meningkatkan Perekonomian Jawa Timur".

Pada kesempatan itu, pihaknya juga mengeluhkan terkait birokrasi. Apalagi, lambatnya proses perizinan beragam keperluan pendukung pengiriman barang dan pengembangan infrastruktur juga menjadi masalah laten yang dihadapi pemangku kepentingan logistik nasional.

Penjelasan secara terbuka di hadapan para humas instansi pemerintah tersebut diharapkan ikut menjadi catatan diskusi. Tujuannya, agar dari sisi kehumasan juga turut membantu mengurai masalah logistik di Tanah Air.

Prospek Jatim
Di sisi lain, Ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya, dengan Pelabuhan Tanjung Perak yang dioperasikan Pelindo III merupakan pelabuhan "hub" (penghubung) dengan rute terbanyak di penjuru Nusantara. Misalnya, ada rute regional, rute internasional, dan berbagai rute kunci domestik.

Jalur tersebut menghubungkan antara Kawasan Tengah Indonesia dan Kawasan Timur Indonesia. Dengan kondisi dan potensi yang dimiliki itu maka dapat dibilang Pelabuhan Tanjung Perak ialah pelabuhan transit logistik paling vital di Indonesia.

Sementara, potensi strategis Jatim tergambar pada grafik angka pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur yang tercatat lebih tinggi daripada angka pertumbuhan ekonomi nasional. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, perumbuhan ekonomi Jatim lebih tinggi yakni 6,02 persen per kuartal ketiga 2014, berbanding nasional yang hanya 5,11 persen.

Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim, Liri Idham L memaparkan, kontribusi sektor perdagangan, hotel, dan resto (ketiganya di bidang jasa) yang mencapai 31,21 persen pada pertumbuhan ekonomi di Jatim merupakan penyumbang terbesar.

"Angka itu juga lebih tinggi dibandingkan dengan sektor lain seperti industri pengolahan (26,20 persen) atau pertanian (15,63 persen)," tutur Liri.

Kemudian, dijelaskan pula bahwa struktur industri Jawa Timur disokong oleh industri makanan, minuman, dan tembakau sebesar lebih dari setengah nilai totalnya atau mencapai 56,6 persen. Sesuai data struktur industri tersebut, Terminal Teluk Lamong sejalan dengan potensi perkembangan industri makanan.

Bahkan, terminal dengan peralatan serba semi-otomatis tersebut kini fokus melayani bongkar muat curah kering berupa makanan, pertanian, dan biji-bijian. Oleh sebab itu, Pelindo III membangun TTL untuk mengatasi peningkatan beban bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak yang sudah melebihi kapasitas.

Kepala Humas Pelindo III, Edi Priyanto menambahkan pada tahun 2014 realisasi arus peti kemas sudah mencapai 3,1 juta TEUs. Selain itu, pada pekan lalu Pelindo III juga sudah memulai "ground breaking" pembangunan fasilitas curah kering di TTL.

"Upaya itu terealisasi dengan nilai investasi mencapai Rp1,1 triliun dengan kapasitas awal mencapai 5 juta ton per tahun," ujarnya.

Di samping itu, tren neraca ekspor Jatim yang terus naik telah disikapi Kementerian Perdagangan dengan meningkatkan target ekspor migas dan non-migas setiap tahunnya. Salah satu asumsi tercapainya peningkatan target non-migas yaitu melalui peningkatan kapasitas infrastruktur seperti yang dijelaskan Agung sebelumnya.

Misal, strategi peningkatan ekspor yang ditargetkan mampu meningkatkan daya saing khususnya jelang diberlakukannya masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) pada bulan Desember 2015. Hal itu bisa diwujudkan melakukan langkah strategis seperti dengan mempromosikan TTL.

Cara lainnya, dengan meluaskan jejaring pasarnya serta "shipping line" di luar negeri yang dapat dilakukan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jatim maupun Surabaya yang aktif mengikuti pameran atau mengadakan kegiatan sendiri. Tidak hanya Diskominfo, melalui adanya sinkronisasi dengan semua pihak terkait maka TTL dapat dioptimalkan untuk peningkatan perekonomian Jatim.

Poros Maritim
Untuk menjawab berbagai tantangan di sektor kemaritiman itu, Pelindo III menyatakan siap bekerja sama dengan pihak terkait baik pemerintah maupun swasta. Salah satu badan usaha kepelabuhanan tersebut juga akan bersinergi dalam berbagai bidang dengan BUMN lain.

Upaya Kemendag melalui Disperindag di Jatim diyakini terus mendorong pertumbuhan kinerja ekspor. Dengan langkah tersebut maka pertumbuhan ekonomi Jatim tidak berhenti di angka enam hingga tujuh persen. Akan tetapi bisa mencapai angka delapan persen mendatang.

Hal tersebut juga diamini Pengamat Kemaritiman Surabaya, Oki Lukito. Ia menilai, pengoperasian Terminal Teluk Lamong (TTL) secara komersial pada bulan November 2014 bisa meningkatkan kapasitas dan kinerja bongkar muat Pelabuhan Tanjung Perak.

Keberadaan TTL dengan konsep pelabuhan ramah lingkungan itu tak terlepas dari komitmen Pelindo III yang tak henti mendukung misi dan visi pemerintah, terutama menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Walaupun ada beberapa pengamat industri maritim memandang sebelah mata terhadap terciptanya Poros Maritim Dunia berada di Indonesia tetapi salah satu BUMN di Surabaya itu tetap menyuguhkan performa terbaiknya.

Kemungkinan besar, munculnya nada sumbang mewujudkan impian Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bermunculan disebabkan untuk merealisasi Poros Maritim Dunia dibutuhkan dana yang besar atau senilai Rp2.000 triliun.

"Angka yang diperlukan untuk merealisasi Poros Maritim Dunia di Indonesia memang besar. Oleh sebab itu diperlukan sinergi dari berbagai pihak," kata pria yang juga menjabat Sekretaris Dewan Maritim Jawa Timur.

Namun, kini peran kalangan swasta juga tidak bisa diremehkan dalam meningkatkan performa industri maritim. Apalagi pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat minim investor yang berminat mengembangkan infrastruktur pelabuhan.

Oki optimistis, dengan menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia bisa mampu menyejahterakan ekonomi masyarakat pesisir yang kental dengan kemiskinan hingga saat ini. Kalau selama ini mereka yang berada di daerah pesisir sering dijadikan halaman belakang maka sekarang saatnya menjadi etalase di Nusantara.

Hal itu bisa terwujud karena potensi wilayah pesisir sangat prospektif untuk digalakkan. Apalagi didukung jumlah desa pesisir di Jatim yang miskin dan tertinggal mencapai sebanyak 632 desa. Melalui besarnya potensi wilayah pesisir, seluruh pelabuhan di Tanah Air terutama di lingkup Pelindo III bisa mengembalikan kejayaan laut Indonesia.

Langkah itu dilakukan dengan serangkaian program percepatan dan penyempurnaan kinerja sejumlah pelabuhan di wilayah kerja perusahaan itu. Salah satunya terlihat dari program klasterisasi yang dilaksanakan di wilayah Pelindo III Cabang Tanjung Perak seperti Terminal Jamrud, Nilam, Mirah dan Kalimas.

"Berikutnya klasterisasi di Terminal berlian oleh PT BJTI dan Terminal Petikemas Surabaya dioperasikan oleh PT TPS," pungkasnya.

www.antarajatim.com