Nilai Beli Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 14.182 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.332 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 8.273 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.000 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 11.200 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 117.273 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.426 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.091 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 27.818 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 29.727 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 28.091 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.980 ( Rp / kg )  Nilai Jual Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg )  Gula Pasir= 13.009 ( Rp / kg )  Minyak Goreng Curah= 11.412 ( Rp / kg )  Tepung Terigu= 9.106 ( Rp / kg )  Kedelai lokal= 10.749 ( Rp / kg )  Kedelai Impor= 10.718 ( Rp / kg )  Daging Sapi= 116.518 ( Rp / kg )  Daging Ayam Broiler= 30.653 ( Rp / kg )  Telur Ayam Ras= 22.602 ( Rp / kg )  Cabe Merah Keriting= 30.050 ( Rp / kg )  Cabe Merah Biasa= 28.349 ( Rp / kg )  Bawang Merah = 26.972 ( Rp / kg )  Beras Medium= 10.659 ( Rp / kg ) 

Kalender Agenda

<<  September 2017  >>
 Mon  Tue  Wed  Thu  Fri  Sat  Sun 
      1  2  3
  4  5  6  7  8  910
11121314151617
18192021222324
252627282930 

Agenda Kegiatan

Tabel Ekspor-Impor

Data Nasional
Data Jawa Timur
Eror
  • JHTMLBehavior::caption not supported.
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JFolder::create: Could not create directory
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTML::date not supported.
  • JHTMLIcon::email not supported.
  • JHTMLIcon::print_popup not supported.
  • JHTMLIcon::pdf not supported.
  • JHTMLBehavior::mootools not supported.

Jamu Madura, Kualitas Ekspor Namun Rawan Tergerus MEA

There are no translations available.

Pasar bebas ASEAN 2015 atau yang sering disebut juga dengan MEA ternyata cukup membuat keder UMKM jamu tradisional di Madura.

Apabila bicara pamor, pasti sulit mencari tandingan Jamu Madura. Namun, berbekal pamor itu saja tentu tidaklah cukup.

Persaingan pasar jamu tradisional di era MEA nanti pasti akan keras dan dikhawatirkan akan menggeser perajin jamu lokal.

Menurut Haji Muhammad Sholeh, pemilik brand Jamu Sumber Madu di Bangkalan Madura, jangankan bertarung di Pasar Bebas ASEAN, bertarung untuk bertahan di tingkat lokal saja sudah cukup sulit.

“Minta ampun sulitnya. Yang tradisional seperti kita dikalahkan dengan jamu bikinan pabrik. Kita selalu merasa dipersulit untuk melakukan produksi,” Ujarnya.

Dikatakan Abah Sholeh, demikian sapaan sehari-hari penerus usaha jamu Sumber Madu turun-temurun sejak zaman Belanda ini, sejak jaman Belanda moyang kita sudah berproduksi jamu tradisional. Hingga selama itu, bahkan sampai hari ini, tidak pernah ada mendapatkan keluhan dari peminum jamu di Sumber Madu.

“Tapi kita ini sulit mendapatkan perizinan. Kita tidak alergi dengan izin, bahkan menurut saya itu harus, dan semestinya izin itu disederhanakan. Jangan diribetkan seperti sekarang. Satu nomor izin jamu kita membayar 10 juta, itu tidak masalah sebenarnya. Kita sanggup. Tapi setelah mengurus, baru enam bulan mendapatkan kabar apakah izin itu bisa berlanjut atau tidak. Nah selama enam bulan itu kita kan tidak bisa berproduksi,” terangnya.

Abah Haji Muhammad Sholeh mengaku tidak bisa membayangkan mekanisme pasar bebas ASEAN kelak jika memang benar-benar diterapkan. Kalau ribetnya izin saja seperti sekarang, bagaimana perajin jamu tradisonal dengan cepat bisa merespon pasar yang sudah global seperti itu.

Boleh jadi, saat itu, pasar lokal pun akan kebanjiran jamu-jamu tradisional yang pamornya lebih menonjol dari yang dipunyai Madura. Jamu dari China misalnya. Atau jamu dari Thailand. “Belum pasar bebas saja jamu-jamu itu sudah beredar luas dipasaran, apalagi kalau pasar bebas benar-benar sudah berjalan. Pasti pasar jamu tradisional akan booming dengan jamu produk asing.”

Kendati cukup sulit membayangkan seperti apa wajah jamu tradisional di era pasar bebas nanti, sembari berpasrah diri, Sumber Madu tetap memanfaatkan pelung-peluang pasar yang ada. Termasuk membuka pasar lewat perdagangan online. Memang tidak dikerjakan sendiri, tetapi bekerja sama dengan anak-anak muda yang berbisnis lewat internet.

Menyadari berbisnis secara modern membutuhkan performa yang lebih terhadap produk, maka Sumber Madu yang turun-temurun bergerak secara tradisional pun ikut berbenah. Kemasan adalah salah satunya yang digarap. Dengan kemasan baru dan cantik memungkinkan item-item produksi jamu dan sabun kecantikan Sumber Madu bisa dikirimkan ke tempat yang jauh. Melewati batas pulau, laut, dan udara.

Negara Jepang dan sedikit Korea adalah pasar tetap jamu produksi Sumber Madu. Permintaan datang dari orang Jepang yang suka pelesir di Bali. Dari Bali kemudian menyebar ke Negaranya. Jamu yang diminta adalah jamu untuk perempuan dan sabun untuk kecantikan wajah. “Mereka suka dan cocok. Cocok dengan cara tradisional yang kita pertahankan saat berproduksi. Memang dalam produksi kita nyaris tidak menggunakan peralatan modern. Murni mengandalkan ketrampilan atau handmade, intuisi, dan doa,” terang Abah Sholeh.

Orang Jepang mempunyai gudang di Bali. Dari Bali kemudian baru naik kontainer dan melanglang buana menuju negara tujuan. Untuk jamu perempuan, paling melekat orang Jepang sangat menyenangi jenis Sabun Rapet, Galian Rapet, Harummita atau Empot Super. Semuanya adalah jenis jamu untuk mengencangkan kewanitan. “Orang Jepang itu seperti orang Indonesia, suka kalau kewanitaan kencang-kencang untuk membahagiakan suami,” canda Abah Sholeh yang mewarisi bisnis turun-temurun ini sejak tahun 1984.

Untuk jamu kualitas tinggi seperti itu, atau kualitas ekspor seperti yang disebutkan, Sumber Madu tidaklah tergolong mahal. Cukup murah. Harga eceran per kemasan hanya Rp 12.000 dengan volume 100 butir jamu. Kemasan yang besar 250 butir jamu, dengan harga dua kali lipatnya. Namun pasaran lebih menyenangi kemasan yang kecil. Untuk ekspor kemasan khusus harganya hanya Rp 130.000 dengan kemasan 12 paket. Cukup murah bukan, padahal bahan-bahan khusus ada yang didatangkan dari Irak, Iran, juga Yaman. Sementara bahan baku impor naik turun berdasarkan harga dollar.

bappeda.jatimprov.go.id